Review : Prinsip Penerapan Manajemen Risiko Bank Syariah Mandiri (BSM)

Prinsip Penerapan Manajemen Risiko

BSM menerapkan manajemen risiko secara terintegrasi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal tersebut bertujuan untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, serta mengoptimalkan tingkat risk-adjusted return.

Bank mengelola risiko-risiko melalui proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko yang berdampak terhadap bisnis, operasional, dan organisasi. Dalam mendukung penerapan manajemen risiko, BSM telah menyusun kebijakan, proses, kompetensi, akuntabilitas, pelaporan dan teknologi pendukung.

Dalam mengimplementasikan tata kelola risiko, BSM mengimplementasikan Enterprise Risk Management (ERM) dalam pendekatannya. Penerapan ERM akan memberikan nilai tambah (value added) bagi Bank dan stakeholders terutama dikaitkan dengan penilaian kinerja berbasis risiko (Risk Base Performance).

Bank mengimplementasi ERM melalui dua pendekatan (two prong approach) yaitu pengelolaan risiko melalui permodalan dan pengelolaan risiko melalui aktifitas operasional, agar Bank mampu mengelola risiko yang melekat dalam kegiatan bisnisnya. Empat komponen utama dalam mendukung penerapan two prong approach ini adalah Organisasi & Sumber Daya Manusia, Kebijakan & Prosedur, metodologi Model & Analytics dan yang terakhir adalah Sistem & Data. Penerapan ERM diharapkan mampu meningkatkan kinerja BSM sehingga menghasilkan added value bagi stakeholder.

1. Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Organisasi manajemen risiko di BSM merupakan organ yang dibentuk untuk mendukung dan memfasilitasi penerapan manajemen risiko pada seluruh lini perusahaan. Organisasi tersebut terdiri atas:

  1. Komite Pemantau Risiko
  2. Komite Manajemen Risiko
  3. Direktur Manajemen Risiko
  4. Satuan Kerja Manajemen Risiko

Bank membentuk Komite Pemantau Risiko (KPR) yang bertugas memberikan rekomendasi usulan perbaikan strartegi dan penerapan manajemen risiko kepada Dewan Komisaris.

Komite Manajemen Risiko (KMR) berfungsi memberi rekomendasi mengenai arah kebijakan serta strategi manajemen risiko, serta membahas seluruh aspek risiko yang dihadapi Bank. KMR beranggotakan Direksi dan pejabat eksekutif. KMR dibantu oleh Working Group (WG) yang terdiri atas WG Asset Liabilities Management (ALMA) & Pembiayaan dan WG Operasional. WG bertugas melakukan kajian risiko dan memberikan rekomendasi terkait kondisi usaha yang dihadapi Bank.

Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) merupakan unit kerja yang memiliki tanggung jawab secara langsung kepada Direktur Manajemen Risiko. Bank terus melakukan evaluasi terhadap struktur organisasi dan proses bisnis agar penerapan manajemen risiko dapat mendukung perkembangan bisnis Bank.

Keberhasilan BSM dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen risiko didukung oleh risk awareness dan kompetensi yang memadai di seluruh unit kerja di BSM. BSM terus berupaya meningkatkan kompetensi pegawai melalui pelatihan baik internal maupun eksternal, sertifikasi, sosialisasi, forum diskusi, magang, maupun program lain mengenai manajemen risiko yang sejalan dengan program internalisasi budaya perusahaan.

Prinsip Penerapan Manajemen Risiko Bank Syariah Mandiri (BSM)

Prinsip Penerapan Manajemen Risiko Bank Syariah Mandiri (BSM)

BSM menjadi salah satu narasumber dalam workshop Penyusunan Modul Sertifikasi Manajemen Risiko Perbankan Syariah yang diselenggarakan oleh Asbisindo, tanggal 15 Februari 2013. Peran aktif ini merupakan salah satu wujud komitmen BSM untuk mendorong perbankan syariah tumbuh secara sehat.

2. Kebijakan, Prosedur, Limit, dan Tools

a. Kebijakan dan Prosedur

Dalam rangka penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan Manajemen Risiko, Bank melakukan enataan struktur ketentuan melalui pembuatan Arsitektur Kebijakan dan Prosedur BSM. Arsitektur Kebijakan dan Prosedur BSM yang disahkan Direksi pada tanggal 24 Agustus 2011 dengan hierarki sebagai berikut:

hierarki arsitektur kebijakan dan prosedur BSM

hierarki arsitektur kebijakan dan prosedur BSM

Kebijakan dan prosedur di BSM merupakan bentuk Manajemen Risiko atau pengelolaan risiko yang melekat pada aktivitas operasional Bank yang di-review secara berkala. BSM memiliki Kebijakan Manajemen Risiko sebagai pedoman utama penerapan manajemen risiko. Sedangkan untuk aktivitas operasional lainnya, Bank memiliki kebijakan dan prosedur tersendiri seperti kebijakan di bidang pembiayaan, operasional, dan tresuri.

Pada tahun 2013 Bank melakukan pembaruan kebijakan, prosedur dan tools terkait penerapan manajemen risiko antara lain:

  • Kebijakan sistem pengendalian intern;
  • Kebijakan kepatuhan;
  • Contingency plan Core Banking System (CBS);
  • Kerahasiaan data nasabah terkait permintaan data dari pihak ketiga;
  • Pengelolaan priority banking;
  • Pelaksanaan Good Corporate Governance

b. Penetapan Limit dan Tools

Dalam upaya mengelola risiko secara menyeluruh dan agar pengelolaan risiko sesuai dengan permodalan yang dimiliki, Bank menetapkan limit dan tool sebagai berikut:

  • Limit wewenang memutus pembiayaan;
  • Limit eksposur 25 debitur terbesar;
  • Limit in house BMPK;
  • Limit portofolio pembiayaan untuk sektor ekonomi & sub sektor tertentu;
  • Limit portofolio pembiayaan valuta asing;
  • Limit Produk Pembiayaan;
  • Limit penjaminan;
  • Limit transaksi tresuri;
  • Limit saldo kas;
  • Limit transaksi operasional;
  • Limit Giro Wajib Minimum;
  • Limit Posisi Devisa Neto (PDN);
  • Limit secondary reserve.
  • Limit pembiayaan gadai emas per individu.
  • Rating sektor ekonomi untuk pembiayaan;
  • Credit scoring pembiayaan konsumer, mikro, dan kecil.
  • Rating Korporasi

3. Sistem dan Data

BSM mengembangkan dan mengelola sistem manajemen risiko untuk mempercepat proses bisnis yang lebih efisien namun tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian. BSM mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SIMRIS) dan Operational Risk Management Information System (ORMIS) yang berfungsi sebagai:

  • Alat identifikasi dan monitoring kejadian risiko operasional;
  • Early warning system potensi risiko operasional;
  • Database kerugian risiko operasional.

BSM bersama dengan Bank Mandiri melakukan penguatan sistem manajemen risiko melalui penggunaan sistem Pooling Informasi Debitur (PID) untuk mengetahui informasi tertentu dari debitur yang terdapat di Mandiri Group, Integrated Central Liabilities System (ICLS), dan Risk Profile Mandiri System (RPX). Khusus di bidang pembiayaan untuk meningkatkan efisiensi proses pembiayaan dan menjaga kualitas data, BSM mengimplementasikan Financing Origination System (FOS) segmen konsumer dan mikro.

4. Metodologi/Model dan Analisis

BSM melakukan pengukuran risiko secara berkala dengan menerapkan metode, baik yang ditetapkan Regulator maupun international best practices. Hasil pengukuran model-model risiko yang dikembangkan digunakan sebagai bahan pendukung dalam pengambilan keputusan. Model risiko yang telah dikembangkan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif yaitu scoring pembiayaan, model Value at Risk (VaR), rating, portofolio management, stress test, liquidity gap dan repricing gap.

Model-model risiko tersebut dievaluasi dan dikalibrasi secara periodik oleh risk model validator yang bersifat independen. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga validitas dan keandalan model, serta memenuhi peraturan regulasi.

Pengelolaan Risiko Melalui Permodalan

Pengelolaan risiko melalui permodalan bertujuan untuk memastikan Bank memiliki kecukupan modal untuk meng-cover risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional, baik dalam kondisi normal maupun kondisi stress. BSM melakukan perhitungan kecukupan modal untuk risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional yaitu:

  1. Risiko kredit menggunakan pendekatan Standardized Approach.
  2. Risiko pasar menggunakan Model Standar, sedangkan secara internal Bank telah menggunakan Value at Risk sebagai Model Internal.
  3. Risiko operasional mengacu pada Pendekatan Indikator Dasar Basel II (Basic Indicator Approach).