Review : Pengelolaan Risiko Bisnis Bank BNI Tahun 2013

Pengelolaan Risiko Bisnis

Selama tahun 2013, pertumbuhan total pinjaman mencapai Rp 49,9 triliun (24,9%), sementara total beban penyisihan kerugian berhasil ditekan menjadi sebesar Rp2,7 triliun, melalui strategi yang tepat dalam hal perbaikan proses kredit, pemantauan serta pemulihan dan penyelesaian kredit.

Pengelolaan Risiko Bisnis Bank BNI Tahun 2013

Pengelolaan Risiko Bisnis Bank BNI Tahun 2013

Inisiatif perbaikan proses kredit dilaksanakan mulai proses analisa kredit sampai dengan keputusan kredit baik untuk kredit segmen Korporasi dan kredit segmen Menengah dan Kecil. Sementara untuk inisiatif program pemulihan dan penyelesaian kredit dilaksanakan juga untuk kredit segmen Korporasi maupun untuk kredit segmen Menengah dan Kecil bahkan juga untuk kredit segmen Konsumer dan Ritel.

Pertumbuhan Aktiva Produktif yang Berkualitas

BNI telah menetapkan dua hal penting yang menjadi perhatian utama dalam hal mengelola pertumbuhan aktiva produktif yang berkualitas. Pertama, proses kredit yang didalamnya telah dilakukan mitigasi risiko secara cukup, dengan mempertimbangkan potensi bisnis dan hasil yang akan diperoleh serta besarnya risiko yang dapat diterima bank, diikuti pemantauan kredit secara efektif, sehingga potensi terjadinya kredit bermasalah dapat diminimalkan. Kedua, program dan penanganan yang cepat, tepat dan efektif dalam proses pemulihan dan penyelesaian kredit yang sudah bermasalah.

fokus utama perbaikan kualitas aset pengelolaan risiko bisnis Bank BNI

fokus utama perbaikan kualitas aset pengelolaan risiko bisnis Bank BNI

Dua fokus utama perbaikan kualitas aset adalah dengan melakukan ekspansi kredit yang berkualitas dan penanganan kredit bermasalah dengan mengedepankan penerapan prinsip
tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

Proses Bisnis

Dalam proses kredit, BNI mengestimasi dan memitigasi risiko serta menyusun proposal kredit yang menjadi bagian dari proses analisa kredit.

Proses pengambilan keputusan kredit berdasarkan “four-eyes principle” dilakukan melalui komite kredit yang melibatkan para pemutus kredit dari unit risiko dan unit bisnis.

Khusus untuk kredit di segmen Konsumer dan Ritel, proses kredit dilaksanakan oleh analisa kredit, dengan menggunakan credit scoring yang secara rutin direview dan disesuaikan baik parameter-parameter untuk menjaga kualitas kredit maupun parameter terkait kebutuhan penyempurnaan mitigasi risikonya.

Review dan pengembangan sistem serta prosedur perkreditan dilaksanakan oleh unit risiko dan unit bisnis, kemudian dimintakan persetujuan kepada Komite Prosedur Perkreditan (KPP) yang terdiri dari Direktur Risiko dan Direktur Kepatuhan sebagai anggota tetap dan direktur terkait sebagai anggota tidak tetap. Proses ini juga dipantau oleh unit Kepatuhan (Quality Assurance) untuk memastikan terpenuhinya kepatuhan terhadap ketentuan internal dan eksternal.

Selama tahun 2013, pertumbuhan total pinjaman BNI mencapai Rp49,9 triliun, atau meningkat 24,9% dibandingkan tahun 2012 dengan perincian pertumbuhan 27,0% di segmen Business Banking dan 15,5% di segmen Konsumer & Ritel.

Pemulihan dan Penyelesaian Kredit

Pengelolaan dan penanganan kredit bermasalah senantiasa mengedepankan penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Pengelolaan kredit bermasalah secara umum ditempuh melalui dua strategi, yaitu pemulihan dan penyelesaian kredit. Strategi pemulihan kredit dilakukan melalui restrukturisasi terhadap debiturdebitur yang masih memiliki prospek dan kooperatif. Sedangkan strategi penyelesaian kredit dilakukan melalui penjualan agunan dan/atau tindakan hukum terhadap debitur-debitur yang sudah tidak mempunyai prospek dan/atau tidak kooperatif.

Pada tahun 2013, melalui strategi pemulihan dan penyelesaian kredit, total beban penyisihan kerugian tahun berjalan dapat ditekan menjadi sebesar Rp2,7 triliun. Jika dihitung secara proporsional kondisi ini lebih baik dari tahun 2012, karena pada tahun 2013 realisasi peningkatan kredit cukup agresif yaitu mencapai 24,9%. Rasio Pra NPL tahun 2013 menjadi 2,8% dibandingkan tahun 2012 sebesar 3,4%. Sementara rasio NPL tahun 2013 menjadi 2,2%, dibandingkan tahun 2012 sebesar 2,8%.

Kredit yang telah dihapusbukukan tetap diupayakan penyelesaiannya untuk meminimalkan kerugian. Upaya penyelesaian atau recovery kredit yang sudah dihapus-buku antara lain dilakukan melalui:

1. Penyelesaian hutang melalui investor terhadap debitur-debitur yang masih memiliki prospek usaha.

2. Penjualan jaminan.

3. Tindakan hukum melalui penagihan terhadap Penjamin atas Personal Guarantee (PG) dan Company Guarantee (CG), eksekusi Hak Tanggungan/Fidusia, kepailitan dan gugatan perdata.

Di tahun 2013, BNI berhasil memperoleh recovery kredit yang dihapus-buku sebesar Rp 2,4 triliun meningkat dibandingkan dengan pencapaian di tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 2,0 triliun.

Pemulihan dan Penyelesaian Kredit dalam Pengelolaan Risiko Bisnis

Pemulihan dan Penyelesaian Kredit dalam Pengelolaan Risiko Bisnis

 

Rencana Kerja 2014

Untuk tahun 2014, kerja sama dengan unit bisnis dan unit terkait lainnya untuk mencapai dan mewujudkan target aset yang semakin berkualitas, BNI akan terus melakukan penyempurnaan proses kredit yang berkelanjutan, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan dan memperkecil kerugian, antara lain sebagai berikut:

  • Upaya implementasi four-eyes principle” secara BNI wide, terhitung sejak 2 Januari 2014 proses bisnis dengan “four-eyes principle” telah diterapkan pula dalam pemberian fasilitas kepada Financial Institution (FI) dan proses kredit di Kantor Cabang Luar Negeri (KCLN).
  • Guna meningkatkan kecepatan proses kredit, akan dibangun sistem otomasi analisa keuangan yang membantu proses analisa kredit sesuai dengan sistem dan prosedur BNI di tahun 2014 ini.

Sumber laporan tahun 2013 Bank BNI mengenai pengelolaan risiko bisnis