Analisa Kemampuan Membayar Utang Dan Tingkat Kolektibilitas

Analisa Tentang Kemampuan Membayar Utang Dan Tingkat Kolektibilitas Piutang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Kemampuan Membayar Utang

Kemampuan membayar utang dapat diukur melalui beberapa rasio, antara lain rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio rentabilitas. Rasio-rasio tersebut akan menjadi tolak ukur bagi Bank Mandiri dalam menghitung kemungkinan risikorisiko yang muncul dalam kegiatan operasional Bank. Selain itu, Pefindo dengan surat No. 1585/PEF-Dir/X/2014 tanggal 1 Oktober 2014 telah memutuskan untuk menetapkan peringkat idAA+ (Double A plus; Stable Outlook) terhadap Bank Mandiri untuk periode 1 Oktober 2014 sampai dengan 1 Oktober 2015. Hal tersebut menunjukkan kemampuan Bank Mandiri untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya relatif superior jika dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya.

Likuiditas Bank

Likuiditas Bank dipengaruhi oleh struktur pendanaan, likuiditas aset, liabilitas kepada counterparty dan komitmen kredit kepada debitur. Total aset lancar Bank Mandiri pada tahun 2014 mencapai Rp161.421 miliar, meningkat dibandingkan posisi tahun 2013 yang sebesar Rp 135.269 miliar, suatu indikasi likuiditas yang sangat baik. Total aset lancar di akhir tahun 2014 mencapai 18,9% dari total aset atau 25,4% dari total simpanan non bank, yang juga mengindikasikan kondisi likuiditas yang baik.

Disamping itu, Bank Mandiri melakukan pengelolaan likuiditas dengan mengukur besarnya risiko likuiditas yang dimiliki oleh Bank. Untuk mengukur besarnya risiko likuiditas, Bank Mandiri menggunakan beberapa indikator, antara lain adalah primary reserve ratio (rasio Giro Wajib Minimum dan Kas), secondary reserve (cadangan likuiditas), Loan to Deposit Ratio (LDR).

Pada tanggal 31 Desember 2014, posisi GWM Primer Rupiah adalah sebesar 8,00% dari total dana pihak ketiga Rupiah, sesuai dengan limit yang telah ditetapkan, sedangkan untuk cadangan GWM LDR adalah sebesar

0,00% karena tidak ada pelanggaran batas LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan GWM Sekunder Rupiah adalah sebesar 17,74% dari total dana pihak ketiga Rupiah. Sementara untuk valuta asing, Bank memelihara GWM sebesar 8,49% dari total dana pihak ketiga valuta asing sesuai dengan limit yang ditetapkan.

Secondary reserve (cadangan likuiditas) adalah alat likuid Bank pendukung primary reserve dengan fungsi sebagai cadangan likuiditas terhadap kebutuhan dana yang tidak terjadwal. Dalam mengelola secondary reserve,

Bank memiliki batasan cadangan likuiditas dalam bentuk limit safety level, yaitu proyeksi cadangan likuiditas Bank untuk 3 bulan ke depan. Pada tanggal 31 Desember 2014, cadangan likuiditas berada di atas safety level.

LDR merupakan rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga terhadap total dana pihak ketiga dalam valuta Rupiah dan valuta asing. LDR digunakan untuk melihat seberapa besar sumber dana yang berasal dari dana

masyarakat, yang secara kontraktual umumnya berjangka pendek, digunakan untuk membiayai aset berupa kredit yang umumnya tidak likuid. Pada tanggal 31 Desember 2014, LDR Bank Mandiri secara konsolidasi adalah sebesar 82,02%, memenuhi kriteria “sangat likuid” dalam penilaian Tingkat Kesehatan Bank. LDR Bank Mandiri dimaksud berada diantara batas LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu 78% sampai 92%, yang merupakan indikator bagi kesehatan finansial suatu Bank.

Tabel Posisi Likuiditas Bank Mandiri Tahun 2012 - 2014

Tabel Posisi Likuiditas Bank Mandiri Tahun 2012 - 2014

Catatan:

  1. Aset Lancar terdiri dari: kas, giro pada Bank Indonesia , giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia, bank dan lembaga keuangan lain, serta surat-surat berharga (tidak termasuk Obligasi Pemerintah) dalam portfolio yang diukur pada nilai wajar
  2. Simpanan tidak termasuk simpanan dari bank lain

Solvabilitas Bank

Bank Mandiri mengukur solvabilitas melalui rasio permodalan Bank. Bank Mandiri melakukan Kebijakan permodalan secara prudent dengan melakukan diversifikasi sumber permodalan untuk mengantisipasi rencana strategis jangka panjang dan mengalokasikan modal secara efisien pada segmen bisnis yang memiliki potensi untuk memberikan profil risk-return yang optimal, termasuk penempatan dan penyertaan pada perusahaan anak dalam rangka memenuhi ekspektasi stakeholder termasuk investor dan regulator.

Bank Mandiri memastikan kecukupan modal Bank untuk dapat memenuhi risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional yang tercermin dari Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio [CAR]). Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio [CAR]) adalah rasio modal terhadap aset tertimbang menurut risiko (Risk-Weighted Assets [RWA]). Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, jumlah modal untuk risiko kredit terdiri dari Modal Inti (“Tier I”) dan Modal Pelengkap (“Tier II”) dikurangi penyertaan pada Entitas Anak. Dalam rangka perhitungan Risiko Pasar, Bank dapat memasukkan komponen Modal Pelengkap Tambahan (“Tier III”) yaitu Pinjaman Subordinasi berjangka pendek yang memenuhi kriteria tertentu sebagai komponen Modal. Rasio Kecukupan Modal (Bank Mandiri saja) adalah sebagai berikut:

Tabel Rasio Kecukupan Modal Bank Mandiri Tahun 2012 - 2014

Tabel Rasio Kecukupan Modal Bank Mandiri Tahun 2012 - 2014

Rasio kecukupan modal minimum Bank (Bank saja) pada tanggal 31 Desember 2014 dengan memperhitungkan risiko kredit, operasional dan pasar adalah 16,60%. Nilai CAR tersebut masih berada diambang batas CAR dan CAR insentif yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 14%.

Rentabilitas Bank

Rentabilitas konsolidasian bank diukur melalui rasio-rasio berikut:

Tabel Rasio-rasio Rentabilitas Tahun 2012-2014

Tabel Rasio-rasio Rentabilitas Tahun 2012-2014

Pada tahun 2014, Bank Mandiri mencatat Return on Equity sebesar 20,95% sedikit turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 22,23%. Nilai Return on Asset tahun 2014 sebesar 3,39% sedikit turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 3,54%. Sedangkan Net Interest Margin mengalami peningkatan menjadi 5,97% dari 5,74% pada tahun 2013. Dengan level NIM tersebut maka Bank Mandiri merupakan salah satu Bank dengan tingkat profitabilitas yang baik.

Cost Efficiency Ratio Bank Mandiri di tahun 2014 adalah sebesar 44,91%. Hal ini menunjukkan keberhasilan Bank Mandiri dalam menerapkan strategi efisiensi dan efektivitas kegiatan operasional, peningkatan kredit dan perluasan operasional. Sedangkan rasio BOPO mengalami sedikit peningkatan menjadi sebesar 70,02% dari posisi di tahun 2013 yang sebesar 67,66%. Hal ini dikarenakan peningkatan pendapatan operasional bank yang tidak sebanding dengan peningkatan pengeluaran operasionalnya. Namun demikian, rasio tersebut masih menunjukkan keberhasilan manajemen dalam mempertahankan efisiensi dan efektivitas kegiatan operasional.

Dari rasio-rasio yang ditunjukkan sebelumnya, Bank Mandiri memiliki kemampuan untuk menghasilkan laba dan tingkat efektivitas yang baik dalam menjalankan operasional perusahaannya.

Kolektibilitas Kredit

Kolektibilitas Kredit Bank terlihat dari total kredit bermasalah (Non-Performing Loan [NPL]). NPL Bank Mandiri pada tahun 2014 tetap terkendali dikisaran 2,15% dengan besaran Rp11,4 Triliun. Besaran NPL tersebut jauh dibawah ambang batas NPL yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Tabel Kolektibilitas Kredit Tahun 2012 - 2014

Tabel Kolektibilitas Kredit Tahun 2012 - 2014